003011006

Pagi itu aku siapkan semua kertaskertas materi ujianku. Aku seLipkan daLam tas yang penuh memuat Lapiku dan berkas kantorku. Tak Lupa puLa aku masukkan aLat tuLis yang aku rangkai daLam satu dompet hitam. Tak banyak memang materi saat itu jika memang hanya mengandaLkan catatan yang kuterima dari dosenku. Jangan cobacoba baca materi asLinya, tuebaL buanget… (ini saran buat anak maLes kayak aku)

Siang itu aku bawa catatan keciLku ke kantin untuk menemaniku makan siang. Capek aku rasakan… masuk juga siy hafaLanku… tapi sedikit… gak papa dech Lumayan ada yang masuk.

Sore itu aku Lirik terus jam di dinding dan jam yg meLingkar di tanganku. Tak hentihentinya aku merasa gundah menunggu jam ujianku. Waktu yang kadang cepat dan kadang Lambat terus aja kuLaLui dengan debaran guLana.

Jam empat Lebih Lima beLas menit, aku sudah tidak sabar untuk beranjak dari tempat tinggi itu untuk menuju detikdetik ujianku. Aku beranikan diri untuk meminta izin untuk ujian dan meLangkah keLuar dengan tergesa. Memang masih jauh waktunya, tapi aku merasa sangat aneh meninggaLkan kantor yang baru saja kutempati Lagi seteLah satu setengah tahun kutinggaLkan.

Aku geber kuda besiku dengan sedikit Lebih kencang, karena aku merasa air Langit akan tumpah. Saat aku Lewati jaLan kerajaan itu, aku rasakan air hujan muLai menghujami tubuhku. Saat itu aku terjepit dengan keadaanku yang tidak memakai jacket dan Lapi yang aku bungkus hanya dengan seLembar tas tanpa fasiLitas “AntiAir”. Aku tetep meLaju dengan kencang, hingga di perempatan yang sangat aneh aku rasakan.

Saat itu aku sendirian, buLatan kemiLau itu masih menghijau. Aku pandang terus, karena aku rasa aku adaLah bagian terakhir dari jaLur yang akan diizinkannya untuk Lewat. Aku ragu antara hujan, Lampu hijau, aku terjang, Lampu merah, poLisi juga ujian yang terus saja berputar di kepaLaku. Aku putuskan dengan cepat karena saat kuLewati garis putih Lampu masih hijau maka aku beLokkan kudaku ke kanan, tanpa sadar kecepatanku hanya turun sedikit saja dari kecepatanku mengejar Lampu hijau. Besibesi itu… yaa… besibesi itu teLah menjegaL kaki kudaku dan membuatnya oLeng sehingga d’Jouw Lepas dari kendaLiku. Saat itu yg terpikirkan hanya “jatuh” dan “maLu”.

Jeduog!!! Pinggang kananku menerima ayunan indah tubuhku, uLir gasku tertarik. seketika itu d’Jouw marah dan berputar dengan poros footstep yang harusnya jadi injakan kakiku. Aku Lepaskan peganganku dari d’Jouw yang berputar 180 derajat. Aku terpentaL dan berguLung. Yang ada di pikiranku saat itu hanya “aduuch… Lapiiikuuu…”

Brough!!! Aku tersungkur dan tanpa pikir panjang, aku bangun untuk mengambiL sepatuku yang meLoncat satu setengah meter dari kakiku. Aku tengok d’Jouw yang terkapar indah dan hanya ada satu pikiran yang terLintas “gimana caranya aku mbangunin d’Jouw yaw???” tibatiba dari sisi kananku muncuL pria berheLm kuning yang tidak kukenaL menanyakan keadaanku. Aku jawab spontan “aku tak papa kok, toLongin motorku duonk!!!” baaru aku sadar sekarang, betapa kurang ajarnya aku menyuruh penoLong itu untuk mendirikan d’Jouw yang terjatuh. Dan saat orang itu membantuku, dari sisi kiriku muncuL seorang PoLisi penjaga markas yang juga menanyakan keadaanku. Pun aku jawab dengan spontan “Aku tak apa kok” LaLu aku starter d’Jouw yang kurasa sedikit marah hingga tidak mau aku kendaLikan. Dengan pikiran yang dipenuhi oLeh ujian, aku paksakan d”Jouw untuk berjaLan dan menoLak ajakan para penoLongku untuk mengambiL waktu tuk sekedar istirahat di haLaman markas. “Erm… gak usah dech, aku keburu niy, mo ujian… makasih ya pak, dag…” hanya itu kaLimat yang aku Lontar ke para penoLongku. Bisa aja mereka menganggap aku anak kurang ajar, habis ditoLong, maLah meLarikan diri secepat mungkin.

Aku bersaLah pada d’Jouw. Yaa… uLir gasnya macet, mungkin karena dia menarak keras aspaL dan berputar jauh. ALhasiL niatku untuk membawanya ke kampus pupus sudah. Aku beLokkan d’Jouw ke jaLan menuju asramaku. Aku controL d’Jouw yang sedang tidak jinak dengan menahan sakit dan nyeri yang menjaLar di sekitar pinggangku… ouch… periiihhh…

Pikiranku masih tertumpu pada ujian dan mungkin tidak akan cukup sisa waktu yg kupunya jika aku erangkat dengan jaLan kaki. Noxie Lagi ngambek karena Lowbatt dan Mozhey Limit puLsa. Dengan harapan ada teman yang mau menjemputku, aku coba meneLpon seorang teman yang aLhamduLiLLah bersedia untuk membawaku serta ke kampus. Aku berganti pakaian sebentar dan menunggu temanku sambiL membaca kertas materiku yang hamper rusak tercabik aspaL dan air hujan. Terima kasih teman, kau teLah menoLongku dari semua kesusahan ini. (Kepada BruangKutub yang super hitam, much thanks for you)

Ujian oh ujian… aku tak bisa ikut meLantai ria bersama temantemanku untuk beLajar bersama, menghafaL bersama. Aku mencari sebingkah kursi kosong untuk sekedar menenangkan diriku yang berdebar kencang dan kesakitan. Aku yakin wajahku saat itu sangat o’on. Saat ujian tiba, aku masuk dengan Langkah gontai karena pinggangku masih nyeri. Seperti biasanya saat ujian, giLiran aku baca soaL hafaLan yang aku sudah peLajari sekejap hiLang. Yaa sudah… persiapkan tangan dan pikiran untuk mengarang indah saja. GiLa… kok temanteman seperti kereta aja siy ngerjainnya???

Ouch… akhirnya seLesai juga karanganku yang kurasa tidak terLaLu sukses. Aku keLuar, masih dengan menahan nyeri pinggangku. Aku ajak sahabatku untuk puLang bersama karena aku hanya bisa nebeng. Curiga, aku meLihat dia curiga mengapa aku tidak bersama d’Jouw. Aku biLang aku jatuh. Jeduer!!! Marah dech dia gak diberi tau sedari tadi… yaa muaap… gak tega ngganggu yg Lagi konsentrasi beLajar. Baru kaLi itu aku diceramahi panjang Lebar di daLam Lift yang mengantar kami ke Lantai bawah menuju parkiran. Sampai di kost aku kena sidang oLeh sahabatku, ya… aku disuruh menunjukkan semua Lukaku karena accident tadi. Habis dech aku kena omeLan yang bertubitubi. Juga harus nurut diantar ke dokter untuk checkup. Hiks… akhirnya aku harus bergumuL Lagi dengan barang yang aku benci… drugs… huek…

Nyut… nyut… nyut… nyeri memang kaLo pinggangku tersengooL sesuatu. Yaa… terpaksa aku harus berjaLan aLa kadarnya agar sakitku tidak terLaLu kurasakan. Udah… aku capek niy… mana masih nyerinyeri dikit puLa!!! Hiks… bekasnya jueLek buanget… semoga aja bisa cepet iLang dengan obat mujarab Thrombophob.

Teruntuk ibundaku: Muaap aku tak biLang, karena aku tak ingin ibunda merasa khawatir.

Teruntuk temanteman yang teLah menoLongku: Terima kasih sudah dibantu dan dijenguk, aku jadi maLuuu… :P

Teruntuk d’Jouw: Muaap yaa… aku dah bikin kamu bengkangbengkong Lagi… muaap…