DeaRSOctober 18, 2006 5:57 am
016010006

Hey ya…
BerhentiLah sejenak, tengokkan kepaLamu ke diriku yang merunduk di bawah jemari pohon raksasa nan rindang ini.
Hey ya…
JanganLah kau kepaLkan tanganmu dan merah padamkan wajahmu. JanganLah kau gundahkan hatimu dan sesaLkan Langkahmu.
Hey ya…
BuangLah rasa sedih dan sepimu. BuangLah penat seteLah empat setengah jam meLagukan syairmu daLam segenggam udara maLam menuju pagi.
Hey ya…
DudukLah di sampingku dan dengarkan denting nada yang kuaLunkan untukmu. Dentingan kata yang tak kan bisa kuLisankan di depanmu karena aku hanya sebatang rumput keciL yang bergoyang diterpa dendangan angin pegunungan.
Hey ya…
Seperti pernah kaupandang, aku ini sebatang rumput keciL yang bernaung di bawah pohon besar nan rindang. Yaa… seperti duLuw kaLi pertama kau meLihatku yang sedang tumbuh segar menghijau. Berdendang sayu bersama tarian sang bayu.
Hey ya…
Aku tau… bahwa kau terus menerus memandangku. Aku meLihat dari sudut Lensamu, aku meLihat dari cara kau bertepuk memuji gemuLaiku.

Waktu yang berLaLu mengiringi Langkahmu Lenyap dari pandangku. Apakah kau tau bahwa saat itu aku berharap kau akan kembaLi meLirik hijauku??? Meskipun aku tau, saat aku tebarkan harumku aku akan terjebak daLam pusaran topan keciL yang kan menerpa tubuhku. Aku biarkan saja hingga waktu mendenting maju saat pandang kita bertemu. Saat dimana hijauku muLai menipis dan tubuhku muLai terkikis.

Yaa… iniLah aku yang mengering karena sumber airku berLari menjauh, tak bisa kukejar. Saat itu kau yang seorang mooshafeer membawakanku sepercik air. Sepercik air yang membuat tubuhku kembaLi menghijau dan memberiku energi untuk sekedar mengayunkan batangku ke kanan dan ke kiri seriang udara pagi yang menyeruak hari.

Namun apa dayaku jika air yang kautumpahkan kepadaku hanya membuatku segar sesaat??? Yaa… memang aku bahagia bagai bunga yang baru mekar menyambut sinar mentari pagi. Tapi hanya sedikit waktu yang kupunya untuk menyunggingkan senyum kegembiraan. Aku terLaLu takut menyerahkan diriku untuk kauikatkan pada sebuah tiang kapaL sebagai penghias bahtera. Entah mengapa… mungkinkah???

Mungkinkah karena aku masih berharap pada siraman air zam-zam yang kudamba sejak tujuh tahun siLam??? Siraman yang diberikan dengan tuLus oLeh pengeLana yang pernah kutemui daLam memori.

Rumput keciL ini pun punya cita. Rasa ingin Lepas dari rindangnya pohon dan berdiri mandiri menjadi pengayom sebuah taman keciL yang kan menyejukkan hati. Bersama pengeLana kah???

EntahLah… rumput hanya bisa berdoa dan bertawakkaL kepada ALLah ‘Azza Wa JaLLa tentang siapa yang akan memetiknya. Dan menjadikannya pendamping daLam pengembaraan mengarungi samudera hidup, mengendarai dentingan waktu untuk menggapai kebahagian dengan Barakah dan RahmatNya. Apakah itu pengeLana sang pujaan, mooshafeer yang singgah, ato mungkin pemburu yang kebetuLan datang dan terpikat oLeh pesona rumput menghijau.

(Yaa ALLAH… berikanLah yang terbaik kepada hambaMu ini, karena hanya Engkau Yang Maha Mengetahui yang terbaik untuk makhLukMu…)

Hey ya…
JanganLah berkeciL hati. JanganLah menjauh benci. Bukankah aku masih menyanyikanmu denting nada abadi??? Yang tak Lekang oLeh waktu jika kau mau berbagi.
Hey ya…
Semoga kau tak meLupakan rumput keciL yang muLai menghijau kembaLi ini. Yang menginginkan setiap mata yang memandangnya memancarkan sinar keLembutan untuk saLing berkasih sayang antarsesama, membawa kedamaian daLam sepetak tanah yang diayomi pohon besar nan rindang.
Hey ya…
Semoga engkau mendapat apa yang engkau citakan. Semoga engkau mau mengenang si rumput keciL yang setia berdendang diiringi aLunan semiLir angin membeLah cakrawaLa…

DaySJune 8, 2006 5:25 am

003011006

Pagi itu aku siapkan semua kertaskertas materi ujianku. Aku seLipkan daLam tas yang penuh memuat Lapiku dan berkas kantorku. Tak Lupa puLa aku masukkan aLat tuLis yang aku rangkai daLam satu dompet hitam. Tak banyak memang materi saat itu jika memang hanya mengandaLkan catatan yang kuterima dari dosenku. Jangan cobacoba baca materi asLinya, tuebaL buanget… (ini saran buat anak maLes kayak aku)

Siang itu aku bawa catatan keciLku ke kantin untuk menemaniku makan siang. Capek aku rasakan… masuk juga siy hafaLanku… tapi sedikit… gak papa dech Lumayan ada yang masuk.

Sore itu aku Lirik terus jam di dinding dan jam yg meLingkar di tanganku. Tak hentihentinya aku merasa gundah menunggu jam ujianku. Waktu yang kadang cepat dan kadang Lambat terus aja kuLaLui dengan debaran guLana.

Jam empat Lebih Lima beLas menit, aku sudah tidak sabar untuk beranjak dari tempat tinggi itu untuk menuju detikdetik ujianku. Aku beranikan diri untuk meminta izin untuk ujian dan meLangkah keLuar dengan tergesa. Memang masih jauh waktunya, tapi aku merasa sangat aneh meninggaLkan kantor yang baru saja kutempati Lagi seteLah satu setengah tahun kutinggaLkan.

Aku geber kuda besiku dengan sedikit Lebih kencang, karena aku merasa air Langit akan tumpah. Saat aku Lewati jaLan kerajaan itu, aku rasakan air hujan muLai menghujami tubuhku. Saat itu aku terjepit dengan keadaanku yang tidak memakai jacket dan Lapi yang aku bungkus hanya dengan seLembar tas tanpa fasiLitas “AntiAir”. Aku tetep meLaju dengan kencang, hingga di perempatan yang sangat aneh aku rasakan.

Saat itu aku sendirian, buLatan kemiLau itu masih menghijau. Aku pandang terus, karena aku rasa aku adaLah bagian terakhir dari jaLur yang akan diizinkannya untuk Lewat. Aku ragu antara hujan, Lampu hijau, aku terjang, Lampu merah, poLisi juga ujian yang terus saja berputar di kepaLaku. Aku putuskan dengan cepat karena saat kuLewati garis putih Lampu masih hijau maka aku beLokkan kudaku ke kanan, tanpa sadar kecepatanku hanya turun sedikit saja dari kecepatanku mengejar Lampu hijau. Besibesi itu… yaa… besibesi itu teLah menjegaL kaki kudaku dan membuatnya oLeng sehingga d’Jouw Lepas dari kendaLiku. Saat itu yg terpikirkan hanya “jatuh” dan “maLu”.

Jeduog!!! Pinggang kananku menerima ayunan indah tubuhku, uLir gasku tertarik. seketika itu d’Jouw marah dan berputar dengan poros footstep yang harusnya jadi injakan kakiku. Aku Lepaskan peganganku dari d’Jouw yang berputar 180 derajat. Aku terpentaL dan berguLung. Yang ada di pikiranku saat itu hanya “aduuch… Lapiiikuuu…”

Brough!!! Aku tersungkur dan tanpa pikir panjang, aku bangun untuk mengambiL sepatuku yang meLoncat satu setengah meter dari kakiku. Aku tengok d’Jouw yang terkapar indah dan hanya ada satu pikiran yang terLintas “gimana caranya aku mbangunin d’Jouw yaw???” tibatiba dari sisi kananku muncuL pria berheLm kuning yang tidak kukenaL menanyakan keadaanku. Aku jawab spontan “aku tak papa kok, toLongin motorku duonk!!!” baaru aku sadar sekarang, betapa kurang ajarnya aku menyuruh penoLong itu untuk mendirikan d’Jouw yang terjatuh. Dan saat orang itu membantuku, dari sisi kiriku muncuL seorang PoLisi penjaga markas yang juga menanyakan keadaanku. Pun aku jawab dengan spontan “Aku tak apa kok” LaLu aku starter d’Jouw yang kurasa sedikit marah hingga tidak mau aku kendaLikan. Dengan pikiran yang dipenuhi oLeh ujian, aku paksakan d”Jouw untuk berjaLan dan menoLak ajakan para penoLongku untuk mengambiL waktu tuk sekedar istirahat di haLaman markas. “Erm… gak usah dech, aku keburu niy, mo ujian… makasih ya pak, dag…” hanya itu kaLimat yang aku Lontar ke para penoLongku. Bisa aja mereka menganggap aku anak kurang ajar, habis ditoLong, maLah meLarikan diri secepat mungkin.

Aku bersaLah pada d’Jouw. Yaa… uLir gasnya macet, mungkin karena dia menarak keras aspaL dan berputar jauh. ALhasiL niatku untuk membawanya ke kampus pupus sudah. Aku beLokkan d’Jouw ke jaLan menuju asramaku. Aku controL d’Jouw yang sedang tidak jinak dengan menahan sakit dan nyeri yang menjaLar di sekitar pinggangku… ouch… periiihhh…

Pikiranku masih tertumpu pada ujian dan mungkin tidak akan cukup sisa waktu yg kupunya jika aku erangkat dengan jaLan kaki. Noxie Lagi ngambek karena Lowbatt dan Mozhey Limit puLsa. Dengan harapan ada teman yang mau menjemputku, aku coba meneLpon seorang teman yang aLhamduLiLLah bersedia untuk membawaku serta ke kampus. Aku berganti pakaian sebentar dan menunggu temanku sambiL membaca kertas materiku yang hamper rusak tercabik aspaL dan air hujan. Terima kasih teman, kau teLah menoLongku dari semua kesusahan ini. (Kepada BruangKutub yang super hitam, much thanks for you)

Ujian oh ujian… aku tak bisa ikut meLantai ria bersama temantemanku untuk beLajar bersama, menghafaL bersama. Aku mencari sebingkah kursi kosong untuk sekedar menenangkan diriku yang berdebar kencang dan kesakitan. Aku yakin wajahku saat itu sangat o’on. Saat ujian tiba, aku masuk dengan Langkah gontai karena pinggangku masih nyeri. Seperti biasanya saat ujian, giLiran aku baca soaL hafaLan yang aku sudah peLajari sekejap hiLang. Yaa sudah… persiapkan tangan dan pikiran untuk mengarang indah saja. GiLa… kok temanteman seperti kereta aja siy ngerjainnya???

Ouch… akhirnya seLesai juga karanganku yang kurasa tidak terLaLu sukses. Aku keLuar, masih dengan menahan nyeri pinggangku. Aku ajak sahabatku untuk puLang bersama karena aku hanya bisa nebeng. Curiga, aku meLihat dia curiga mengapa aku tidak bersama d’Jouw. Aku biLang aku jatuh. Jeduer!!! Marah dech dia gak diberi tau sedari tadi… yaa muaap… gak tega ngganggu yg Lagi konsentrasi beLajar. Baru kaLi itu aku diceramahi panjang Lebar di daLam Lift yang mengantar kami ke Lantai bawah menuju parkiran. Sampai di kost aku kena sidang oLeh sahabatku, ya… aku disuruh menunjukkan semua Lukaku karena accident tadi. Habis dech aku kena omeLan yang bertubitubi. Juga harus nurut diantar ke dokter untuk checkup. Hiks… akhirnya aku harus bergumuL Lagi dengan barang yang aku benci… drugs… huek…

Nyut… nyut… nyut… nyeri memang kaLo pinggangku tersengooL sesuatu. Yaa… terpaksa aku harus berjaLan aLa kadarnya agar sakitku tidak terLaLu kurasakan. Udah… aku capek niy… mana masih nyerinyeri dikit puLa!!! Hiks… bekasnya jueLek buanget… semoga aja bisa cepet iLang dengan obat mujarab Thrombophob.

Teruntuk ibundaku: Muaap aku tak biLang, karena aku tak ingin ibunda merasa khawatir.

Teruntuk temanteman yang teLah menoLongku: Terima kasih sudah dibantu dan dijenguk, aku jadi maLuuu… :P

Teruntuk d’Jouw: Muaap yaa… aku dah bikin kamu bengkangbengkong Lagi… muaap…

STuFFSJune 5, 2006 6:09 am

Midy aku Lirik ketika berada di kota yang sangat kuidamkan. Namun saat itu kantongku tak cukup untuk membayarnya. Aku tunda hasratku. Hingga saat aku puLang dari perantauan singkatku ke kota rantauku yang pertama, aku bertemu dengannya Lagi. Masih saja aku Lirik, belum cukup juga Lembaran kumaL yang kumiLiki. Tiap kaLi meLihat hanyA bisa meLirik.

Bentuk tubuh yang pas, benarbenar tipeku yang seLaLu aku impikan. Warna kuLit yang pas, wajah cantik dan pesona yang menawan… Midy…

Senja itu baru aja puLang ke kampung dan merampok Bapak. Menghitung hasiL jarahan dan aku putuskan untuk meminang Midy. Meskipun aku harus mengurangi jatah perutku. Aku sudah terLanjur cinta sama Midy. Yaa… akhirnya Midy aku dapatkan. Di kota rantau yang menggoreskan banyak kenangan di hatiku.

Aku tak pernah mau Lepas dari Midyku. Hingga saat ini, aku seLaLu mengajaknya jaLanjaLan. Kedudukannya hanya tergeser saat aku harus ke perjamuan resmi. Dan itu sangat menyebaLkan, karena aku tak bisa mengajak Midy. Aku Lebih suka acara non-formaL dimana aku bisa LeLuasa untuk mengajak Midy.